Wednesday, May 30, 2012

Analisis Kasus Dengan Konseptualisasi Serta Teoritis Konseling


Analisis Kasus Dengan Konseptualisasi Serta Teoritis Konseling

A.    Deskripsi Kasus
Lisa adalah siswi kelas 3 SMA pada semester pertama yang dilimpahkan kepada konselor sekolah oleh wali kelasnya karena ditemukan sering melamun ketika sedang mengikuti pelajaran, tidak banyak berbincang dengan temannya baik ketika jam istirahat atau sebelum pelajaran dimulai. Ia juga tampak sering masuk kelas paling belakangan dan beberapa kali terlambat. Ketika mengerjakan ulangan ia tampak diam dan tak bersemangat. Nilai-nilai hasil ulangannya juga tergolong rendah hampir pada semua mata pelajaran. Pada semester terakhir ini ia juga tak mengikuti satupun kegiatan ekstrakurikuler. Ketika diminta guru untuk mengerjakan tugas atau menyalin tugasnya ke papan tulis, biasanya Lisa tampak terkejut dan menolak, namun jika gurj memaksanya ia baru mau ke depan kelas mengikuti permintaan guru. Banyak guru merisaukan dan membicarakannya karena apa yang tampak pada Lisa itu berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Ketika di kelas 1 dan 2 Lisa tergolong siswa yang berprestasi di atas rata-rata, bergaul dengan banyak teman, dan sering mengajukan pertanyaan ketika sedang mengikuti pelajaran. Bahkan ia juga senang jika guru memintanya mengerjakan soal ke depan kelas. Atas dasar laporan itu maka konselor sekolah segera mengumpulkan informasi tentang Lisa.
Dari studi dokumentasi diperoleh data bahwa sejak kelas 1 dan 2 tak ada catatan kasus untuk Lisa. Angka kecerdasannya sedikit di atas rata-rata, demikian pula prestasi belajarnya. Ditemukan nilai mata pelajaran yang tergolong tinggi yakni mapel bahasan Inggris dan kesenian. Pada dua mapel itu nilainya konsisten 9 sejak kelas 1 hingga kelas 2. Tak ada catatan buruk tentang riwayat kesehatannya.
Hasil wawancara dengan teman-temanya diperoleh infromasi bahwa waktu di kelas 1 dan 2 Lisa adalah anak yang periang dan tergolong cakap. Ia sering membantu teman-temanhya mengerjakan tugas dan selalu aktif dalam kegiatan kelompok belajar. Ia juga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seni drama dan melukis. Perilakunya berubah sejak memasuki semester pertama di kelas 3 setelah liburan panjang. Banyak teman yang merasa heran namun ketika perubahan itu ditanyakan kepada Lisa, yang bersangkutan tampak enggan untuk membicarakannya. Lisa selalu menjawab tak ada apa-apa dan ia baik-baik saja. Ia hanya sedang ingin sendiri dan menikmatinya.
Ketika konselor menemui Lisa untuk yang pertama kalinya dan memintanya untuk datang ke kantornya, lisa mengiyakannya tetapi ternyata ia tidak memenuhinya. Ketika esok harinya konselor menemui dan menanyakan ketidakhadirannya, ia menjawab lupa dan minta maaf dan berjanji setelah jam sekolah ia akan menemui konselor. Namun ternyata ia juga tidak muncul. Baru pada permintaan yang ketiga Lisa mau menemui konselor pada jam pulang sekolah. Pada awalnay ia enggan untuk memberikan informasi yang diminta konselor. Namun setelah konselor mengubah sikapnya menjadi lebih hangat dan lembut, Lisa mau berceritera. Menurutnya, ia sendiri tak tahu mengapa ia menjadi berubah dan merasa sulit untuk kembali menjadi Lisa yang dulu. Ketika pertama kali masuk sekolah setelah liburan, tiba-tiba saja ada rasa enggan untuk bergaul dengan teman-temannya dan lebih sennag menyendiri. Ia juga heran mengapa tak lagi bersemangat untuk belajar. Ia membaca buku hanya sekolas saja demikian pula dalam hal mengerjaka tugas-tugas sekolah di rumah. Ia tak lagi bergairah untuk mengunjungi teman-temannya, dan ia merasa sikapnya itu membuat teman-temannya juga enggan mengunjunginya. Ketika ditanya ada peristiwa apa saja selama liburan, mulanya ia menjawab tak ada kejadian yang penting. Namun setelah konselor lebih detil, Lisa menyatakan bahwa ada beberapa hal yang ia tak yakin apakah itu berkaitan dengan perubahan perilakunya. Ia menyatakan bahwa ketika leburan, ibunya melahirkan adiknya yang ke dua. Kelahiran adiknya itu berjalan dengan sedikit sulit dan harus melalui operasi sesar. Ia melihat ibunya tampak menderita mskipun berusaha tak memperlihatkannya pada dirinya. Di sisi lain, ia melihat ayahnya santai saja bahkan nyaris tak menghiraukan ibunya, mskipun perilakunya tak berubah, masih tampak tetap menyayangi. Setelah itu rumahnya menjadi sibuk dan semua perhatian ditujukan pada adiknya itu dan berbagai hal yang berkait dengan kebutuhan adiknya itu. Ayah dan ibunya sering marah jika ada yang terlewatkan untuk kepentingan adik bayinya. Dulu ayahnya buasa mengantar dan menemputnya berangkat dan pulang sekolah tetapi sekarang sangat jarang. Ia juga merasa perhatian ibunya juga berkurang. Sejak itu ia sering melamun dan kurang perhatian terhadap tugas-tugasnya dan itu membuat ia sering dimarahi ayah dan ibunya. Karena merasa tak lagi disayangi sering ia sengaja melakukan hal-hal yang membuat ayah dan ibunya marah. Akibatnya, ia sering terlibat cekcok dengan ayah dan ibunya dan sering berpikir untuk pergi meninggalkan rumah.
Sering ia mencurahkan perasaanya di jejaring sosial (facebook dna twitter) dan mendapatkan banyak respon. Di antara orang yang sering merespon itu ada satu pria yang tampak memperhatikannya. Mereka pernah beberapa kali bertemu di kafe dan mal. Si pria dengan cepatnya menyatajan bahwa ia tertarik pada dirinya. Terus terang ia merasa senang tetapi juga gugup karena ini pengalaman yang pertama. sejak itu si pria sering mengajak bertemu. Suatu saat ia melihat si pria di mal berjalan bergandengan tangan dengan cewek lain. Ketika ia bertanya pada si pria apakah ia telah punya pacar, si pria menjawab belum. Lisa sebenarnya mau menanyakan apa yang ia lihat tetapi diurungkan karena takut membuat si pria marah dan menuduhnya sangat pencemburu dna paranoid. Sejak itu ia berusaha menjauhi si pria, tetapi si pria tampak tak mau berhenti dan berusaha terus mengejarnya bahkan ia mengancam akan datang ke rumahnya. (Selama ini Lisa minta agar si pria tak berkunjung ke rumahnya). Jika si pria sudah mengancam, biasanya ia menyerah dan selalu memenuhi permintaan si pria untuk menemuinya di suatu tempat. Belakangan ia merasa tak lagi menyukai si pria tetapi ia takut untuk menjauhinya. Ia selalu dibayangi hal-hal buruk jika ia meninggalkan si pria. Ia juga sangat takut jika hubungannya dengan si pria diketahui oleh ayahnya, karena ayahnya selalu menasehatinya untuk tidak berpacaran sebelum menjadi mahasiswa. Ketika ditanyakan mau mengambil jurusan/progra studi apa nanti jika mendaftar ke perguruan tinggi setelah lulus, Lisa malah tertawa. Menurutnya, ayahnya selalu menintanya untuk mendaftar ke fakultas kedokteran dan menjadi dokter spesialis kandungan. Ia sama sekali tak berminta dengan profesi itu namun lebih tertarik dengan profesi jurnalis atau dunia entertainmen. Ketika hal itu disampaikan pada ayahnya, ayahnya marah-marah dan menudingnya sebagai anak yang melawan orang tua.
Lisa juga menyatakan bahwa menjelang akhir liburannya, nenek yang sangat menyayanginya meninggal dunia. Ia sangat meratapi kepergian neneknya itu dan mengurung diri selama dua hari di kamarnya. Ia merasa sangat menyesal dan merasa berdosa karena sudah lama tak mengunjungi neneknya walaupun ia sangat ingin melakukannya. Kakeknya sudah dua tahun yang lau meninggal. Ia ingat neneknya dulu pernah memintanya untuk sekolah di kampung dan tinggal dengan neneknya agar neneknya tidak merasa kesepian. Ia adalah cucu pertama bagi neneknya itu. Ia ingat waktu itu neneknya menitikkan air mata ketika ia menolaknya dan tangan neneknya bergetar ketika memeluknya pada saat ia berpamit pulang.
Ketika ditanya manakah di antara berbagai peristiwa itu yang menurutnya paling mempengaruhi hidup dan perubahan perilakunya, Lisa menjawab tidak tahu dan tak yakin meskipun ia mengakui bahwa perubahan perilakunya sepertinya juga berkaitan dengan berbagai peristiwa yang dialaminya itu. Ketika ditanya apakah ia ingin kembali menjadi Lisa yang dulu, Lisa menganggukan kepalanya dengan pelan dan menangis.


B.     Model Konseptualisasi ABC
A
(Anteceden)
B
(Behavior)
C
(Consekuensi)
·         Ibunya melahirkan adiknya yang ke dua, ia merasa tak lagi disayangi. Ayah dan ibunya menjadi sibuk dan semua perhatian dicurahkan kepada adiknya itu. Ayah ibunya sering marah jika ada yang terlewatkan untuk kepentingan adik bayinya tersebut.
·         Ketika dia sudah dekat dengan pria yang  yang dikenalnya lewat jejaring sosial, dia memergoki pria itu bergandengan tangan dengan wanita lain. Lisa ingin menanyakan hal ini, tetapi takut si pria marah dan menuduhnya pencemburu dan paranoid.
·         Lisa berusaha menjauhi si pria, namun si pria mengancam akan datang ke rumahnya. Padahal ayah Lisa melarang Lisa berpacaran sebelum kuliah.
·         Belakangan Lisa tidak lagi menyukai si pria, namun ia selalu dibayang-bayangi hal buruk dan Lisa takut apabila hubungannya dengan si pria diketahui oleh ayahnya.
·         Ayahnya memaksanya untuk mendaftar ke fakultas kedokteran dan menjadi dokter spesialis kandungan dan marah jika ia menolaknya. Padahal kenyataannya Lisa senang dengan profesi jurnalistik atau dunia entertainment.
·         Nenek yang sangat menyayanginya meninggal dunia. Ia sangat meratapi kepergian neneknya dan mengurung diri selama dua hari di kamarnya.
Overt :
·     Melamun ketika sedang mengikuti pelajaran.  (perilaku)
·     Tidak banyak berbincang dengan teman-temannya. (perilaku)
·     Sering masuk kelas paling belakangan dan beberapa kali terlambat. (perilaku)
·     Lisa baru mau mengerjakan tugas di depan kelas apabila dipaksa oleh gurunya. (perilaku)
·     Ketika konselor memintanya untuk datang Lisa mengiyakan, tetapi tidak menemuinya. (perilaku)
·     Ketika konselor bertanya apakah Lisa ingin menjadi Lisa yang dulu, Lisa menganggukkan kepalanya dengan pelan dan menangis. (perilaku)
·     Lisa tampak enggan untuk membicarakan hal-hal yang terkait perubahan pada dirinya. (perilaku)
·     Sengaja membuat hal-hal yang membuat ayah ibunya marah (perilaku)
·     Lisa tampak terkejut dan menolak ketika guru memintanya mengerjakan tugas atau menyalin tugasnya ke papan tulis. (somatik)

Covert :
·     Lisa merasa enggan untuk bergaul dengan teman-temannya. (afeksi)
·     Lisa merasa tidak disayangi lagi oleh orang tuanya. (afeksi)
·     Lisa merasa kecewa karena ayahnya menyuruhnya masuk ke fakultas kedokteran, padahal ia berminat di bidang jurnalisti ataupun entertainment. (afeksi)
·     Lisa merasa menyesal dan berdosa karena sudah lama tak mengunjungi neneknya, sampai akhirnya neneknya meninggal. (afeksi)
·     Lisa berfikiran untuk pergi meninggalkan rumah. (kognisi)
·     Takut ayahnya mengetahui hubungannya dengan teman prianya. (kognisi)
·     Ingin kembali seperti Lisa yang dulu. (kognisi)
·     Lisa berfikiran adiknya merebut perhatian kedua orang tuanya. (kognisi)
·      Nilai-nilai hasil ulangannya tergolong rendah hampir semua mata pelajaran.
·      Malas belajar seperti membaca buku dan mengerjakan tugas di sekolah.
·      Teman-temannya enggan untuk mengunjunginya.
·      Terlibat cekcok dengan ayah dan ibunya.
·      Pada semester akhir semester tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler satupun.



C.     Pendekatan Teoritis Konseling Adlerian
  1. Konstelasi dan iklim keluarga
Konstelasi keluarga dan urutan kelahiran merupakan sumber yang  turut mempengaruhi perkembangan seseorang.  Konstelasi keluarga meliputi beberapa aspek, seperti komposisi keluarga, peran setiap anggota keluarga, dan transaksi timbale balik antara anak dengan orang tua dan antara anak dengan saudaranya  pada masa anak-anak. Berkaitan dengan konstelasi keluarga adalah iklim keluarga, Konseling Adlerian menekankan pentingnya iklim keluarga dalam perkembangan anak. Jika konstelasi keluarga adalah deskripsi tentang cara-cara anggota keluarga saling interaksi, iklim keluarga merupakan gaya (style) yang digunakan oleh keluarga dalam menangani masalah hidup, dan gaya ini menjadi model bagi anak. Terdapat 12 macam profil ikim keluarga yang member pengaruh negatif pada perkembangan anak, yakni : otoriter, supresif, menolak, evaluative, menerapkan standar terlalu tinggi, tidak harmonis, tidak konsisten, materialistis, terlalu melindungi, memanjakan, tak berdaya dan martir.
Di dalam kasus ini keluarga lisa, terdapat  iklim keluarga yang memberikan pengaruh negatif pada perkembangannya. Yakni keadaannya yang kurang atau bahkan tidak harmonis antara dirinya dengan kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya sering marah apabila ada yang terlewatkan untuk kepentingan adik bayinya. Ayahnya sekarang tidak mengantar dan menjemputnya sekolah lagi dan perhatian ibunya pun juga berkurang. Selain itu ayahnya Lisa juga cenderung otoriter, Ayahnya memaksanya untuk masuk ke fakultas kedokteran dan menjadi dokter spesialis kandungan, sedangkan dirinya lebih berminat di bidang jurnalistik ataupun entertainment. Selain itu ayahnya juga melarang Lisa berpacaran sebelum menjadi mahasiswa, hal ini membuat Lisa semakin ketakutan apabila nanti hubungannya dengan teman prianya diketahui oleh ayahnya.  

  1. Urutan Kelahiran
Dalam konseling Adlerian juga memiliki keyakinan bahwa urutan kelahiran juga merupakan faktor yang turut memainkan peran penting dalam mempengaruhi perkembangan seseorang.  Adler mengidentifikasi lima posisi psikologis dalam keluarga sebagai berikut :
  1. Anak pertama/ tertua : Jika anak pertama menjadi anak tunggal, ia cenderung menjadi pusat perhatian dan seringkali menjadi manja. Ketika adiknya lahir, perhatian yang diterima dari orang tuanya menjadi berkurang dan ia merasa terancam, marah dan cemburu kepada adiknya.
  2. Anak ke dua : Anak kedua sering tertekan karena harus bersaing dengan kakaknya. Jika tak mampu menyaingi kakaknya, ia umumnya akan mengarahkan minatnya untuk mencapai prestasi di bidang yang kurang diminati kakaknya.
  3. Anak di tengah : Anak tengah merasa terjepit diantara anak pertama yang telah menemukan tempatnya dan anak ternuda yang tampak masih menerima perhatian dan kasih saying orang tuanya.
  4. Anak termuda : Anak termuda menghadapi dua bentuk kesukaran umum, yakni harus berjuang/ berkompetisi atau menyamai prestasi kakak tertuanya atau membiarkan dirinya tetap tak berdaya dihadapan saudara-saudaranya dan menjadi “bayi keluarga”.
  5. Anak tunggal : Menjadi pusat perhatian dan dapat mencapai prestasi layaknya anak pertama.
Dalam hal ini Lisa merupakan anak pertama, pada saat dulu orang tuanya sangat perhatian dan ayahnya juga mengantar dan menjemputnya sekolah. Namun setelah lahir adiknya yang ke dua, perhatian itu sedikit demi sedikit berkurang dan bahkan nyaris hilang. Ia merasa bahwa semua perhatian ke dua orang tuanya sangat memperhatikan adik bayinya tersebut. Hal ini membuat Lisa cemburu ia sengaja melakukan hal-hal yan membuat ayah ibunya marah.

  1. Minat Sosial
Dari perspektif Adler, perkembangan dapat dijeaskan melalui dinamika psikososial. Individu yang dapat menyesuaikan diri pada umumnya memilikilogika pribadi yang merefleksikan minat sosial, sedangkan individu yang kurang berhasil dalam menyesuaikan diri diri cenderung lebih mementingkan tujuan mereka sendiri dan kurang memperhatikan konteks sosial dan kebutuhan orang lain. Individu dipandang memliki fitrah sebagai makhluk sosial. Jika individu menyadari bahwa dirinya menjadi bagian dari komunitas manusia, maka perasaan inferior, alinasi, dan cemas akan menurun dan pada gilirannya mereka akan mengembangkan perasaan memilikidan mencapai kebahagiaan hidup. Kesadaran itu juga memungkinkan individu untuk mengakui bahwa baik buruknya masyarakat akan member dampak baginya, dan dengan menyokong kesejahteraan lingkungan maka ia lebih cepat mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Minat sosial tersebut terefleksikan melalui tingkat keberhasilan yang dicapai dalam tiga tugas kehidupan, yakni pekerjaan, cinta, dan persahabatan.
Dalam kasus ini Lisa kurang memperhatikan kepentingan konteks sosial dan kebutuhan orang lain dan ia juga belum bisa merefleksikan tingkat keberhasilan dalam tiga tugas kehidupannya.Dimana sekarang Lisa cenderung sering melamun saat mengikuti pelajaran dan tidak banyak berbincang-bincang dengan temannya baik pada saat istirahat maupun pada saat pelajaran dimulai. Ia dahulunya periang dan cakap, sering membantu teman-temannya mengerjakan tugas dan selalu aktif dalam kegiatan kelompok sosial sekarng menjadi lebih suka menyendiri tanpa banyak bergaul dengan teman-temannya. Hal ini merupakan ciri-ciri orang yang kurang berhasil  dalam menyesuaikan diri menurut Adler.

  1. Gangguan Perilaku
Dalam pandangan Adler, gangguan perilaku dikonseptualisasikan sebagai “kegagalan hidup”. Gangguan psikologis dan perilakudapat dipandang sebagai cara yang slaah untuk hidup. Ini dapat melibatkan kesalahan dalam gaya hidup,kesalahan dalam menetapkan tujuan hidup, atau tak tersalurkannya minat-minat sosial. Berdasarkan pandangan ini maka konseling Adlerian tidak memandang konseli sebagai orang yang menderita karenapenyakit (desase) tetapi karena mengalami kegagalan untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan atau menyelesaikan tugas-tugas kehidupannya (pekerjaan, cinta, dan persahabatan).

Dalam kasus ini Lisa masih belum bisa belum bisa menyelesaikan tugas-tugas kehidupannya. Ia belum bisa menjalin hubungan yang harmonis dengan orang tua dan juga dengan teman-temannya. Karena orang tuanya lebih memperhatikan adiknya ia sengaja membuat ayah ibunya marah sehingga menyebabkan cekcok dengan kedua orang tuanya dan ia sering berfikiran untuk pergi meninggalkan rumah. Lisa yang dahulunya cakap dan periang serta mudah bergaul dengan teman-temannya, sekarang menjadi lebih suka melamun dan kurang bisa bergaul dengan teman-temannya.

  1. Teknik Konseling
  1. Interpersonal konselor : yang meliputi kesanggupan untuk meberikan perawatan yang tulus, keterlibatan, empati, dan teknik-teknik komunikasi verbal maupun non verbal yang lain untuk mengembangkan hubungan konseling dan mengungkapkan perasaan-perasaan inferioritas konseli.
  2. Teknik Bertanya : Konselor juga menggunakan teknik ini guna mengungkap harapan konseli terhadap program perlakuan, pandangannya tentang masalah yang dialami, cara-cara yang mereka telah gunakan untuk mencoba meningkatkan kehidupannya.
  3. Dorongan : Merupakan teknik yang esensial yang dapat digunakan oleh konselor di sepanjang proses konseling, khususnya pada tahap-tahap awal. Untuk mendorong konseli, konselor perlu memusatkan perhatian pada : 1) Apa yng dilakukan konseli bukan mengevaluasi perilakunya;  2) Apa yang dilakukan konseli bukan perilaku lampau; 3) Perilaku dan bukan pribadi konseli; 4) Upaya dan bukan hasil; 5) Motivasi instrinsik dan bukan ekstrinsik; 6) Yang dipelajari dan bukan yang tidak dipelajari; 7) Apa yang positif dan bukan yang negatif. 
                                                             Oleh : illa suryaningsih BK-B 2010 (101014051)


DAFTAR PUSTAKA

Darminto, Eko. 2007. Teori-Teori Konseling . Surabaya : Unesa University Press.
Nursalim, M. dan Hartono, Agung. 2007. Analisis Masalah dalam Konseling. Surabaya : Unesa University Press.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment