Sunday, May 20, 2012

Tes Intelegensi

Tes Intelegensi

Pengertian Intelegensi
Inteligensi dapat diartikan ekspresi dari tingkat kemampuan individu pada saat tertentu dalam hubungan dengan norma usia tertentu. Intelegensi didefenisikan dalam tiga komponen-komponennya, yaitu :
1.      Kemampuan untuk mengolah pikiran atau mengarahkan tindakan.
2.      Kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut tengah dilaksanakan.
3.      Kemampuan untuk mengkritik diri sendiri atau melakukan autokritisme.

Vernom (1973) mengatakan ada 3 arti mengenai intelegensi. Pertama, intelegensi adalah kapasitas bawaan yang di terima oleh anak dari orangtuanya melalui gen yang nantinya akan menentukan perkembangan mentalnya. Kedua, intelegensi mengacu pada “panda”, cepat dalam bertindak, bagus dalam penalaran, dan pemahaman serta efisien dalam aktifitas mental. Ketiga, intelegensi adalah umur mental atau IQ atau skor dari suatu tes intelegensi.

Tokoh-Tokoh Perkembangan Tes Intelegensi

·        Alfred Binet
Menurut Binet Intelegensi merupakan sisi tunggal dari karakteristik yang terus berkembang  sejalan dengan proses kematangan seseorang yang menggambarkan intelegensi sebagai sesuatu yang fungsional, untuk melihat apakah seseorang cukup intelegen atau tidak, dapat diamati dari cara dan kemampuannya untuk mengubah dan melakukan suatu tindakan.

·        Edward Lee Thorndike
Menurut Thorndike, intelegensi terdiri atas berbagai kemampuan spesifik yang ditampakkan dalam wujud perilaku intelegen. Ia mengklasifikasikan intelegensi dalam bentuk tiga kemampuan, yaitu (a) Kemampuan Abstraksi, yakni kemampuan untuk bekerja dengan menggunakan gagasan dan simbol-simbol. (b) Kemampuan Mekanik, yaitu kemampuan menggunakan alat-alat mekanis dan pekerjaan memerlukan aktifitas indra-gerak. (c) Kemampuan Sosial, kemampuan untuk menghadapi orang lain.

·        Charles E. Spearman
Definisi intelegensi menurut Spearman mengandung dua komponen kualitatif yang penting yaitu edukasi relasi dan edukasi korelasi. Edukasi relasi adalah kemampuan untuk menemukan suatu hubungan dasar yang berlaku di antara dua hal. Sedangkan Edukasi Korelasi adalah kemampuan menerapkan hubungan dasar yang telah ditemukan dalam proses edukasi.
Di samping itu, Spearman mengemukakan lima prinsip, yaitu energi mental, kekuatan menyimpan, kelelahan, kontrol konaktif  dan potensi primordial.

·        Louis Leon Thurstone  & Thelma Gwinn Thurstone
Menurut Thurstone intelegensi dapat di gambarkan terdiri atas sejumlah kemampuan mental primer. Intelegensi dapat diukur dari melihat sampel prilaku seseorang dalam 6 bidang, yaitu verbal, number, spatral, word fluency, memory dan reasoning.

·        Cyril Burt
Dalam teorinya, ia mengatakan bahwa kemampuan mental terbagi atas beberapa faktor yang terbagi pada tingkatan-tingkatan berbeda. Faktor- faktor tersebut adalah suatu faktor umum (general), faktor kelompok besar (broad group), faktor kelompok kecil (narrow group), faktor spesifik (specific).

·        Philip Ewart Vernon
Vernon (1950) mengemukakan model hierarkis dalam menjelaskan teorinya mengenai intelegensi






Mengenai factor spesifik, Vernon berpendapat lebih baik membicarakan faktor-faktor  lebih umum karena faktor umum berkorelasi lebih konsisten dan substansial.

·        Joy Paul Guilford
Teorinya mengenai structure of intelled. Guilford berusaha menyertakan kategorisasi perbedaan individual diberbagai faktor  kemampuan mental dalam usahanya memahami dan menggambarkan proses-proses mental yang mendasari perbedaan individual tersebut.

·        C. Halstead
Teori Halstead merupakan teori intelegensi yang menggunakan pendekatan neurobiologis Halstead mengemukakan 4 faktor intelegensi :
1.      Factor Central Integrative (C)
Faktor  ini berupa kemampuan untuk mengorganisasikan pengalaman.
2.      Factor Abstraction (A)
Kemampuan untuk melihat kesamaan dan perbedaan yang terdapat diantara benda-benda, konsep-konsep, dan peristiwa-peristiwa.
3.      Factor Power (P)
Merupakan kekuatan otak (power) dalam arti tenaga otak yang utuh.
4.      Factor Directional (D)
Kemampuan yang memberikan arah dan sasaran bagi kemampuan-kemampuan individu.

·        Donald Olding Hebb
Hebb membedakan intelegensi atas dua macam, yaitu intelegensi A merupakan kemampuan dasar manusia untuk belajar dari lingkungan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Intelegensi B merupakan tingkat kemampuan yang diperlihatkan oleh seseorang dalam membentuk perilaku yang dapat diamati. Intelegensi B tidak berasal dari gen yang dibawa  sejak kelahiran, akan tetapi tidak pula diperoleh sebagai hasil belajar dari lingkungan.
·        Raymond Bernard Cattell
Dalam teorinya mengenai organisasi mental, Cattell (1963) mengklasifikasikan kemampuan mental menjadi 2 macam, yaitu Inteligensi fluid (gf) yang merupakan faktor  bawaan biologis, dan intelegensi crystallized (gc) yang merefleksikan adanya pengaruh pengalaman, pendidikan, kebudayaan, dan diri sendiri. (Mouly, 1973)

·        Jean Piaget
Menurut Piaget teorinya menekankan pada aspek perkembangan kognitif, tidak merupakan teori yang mengenai struktur intelegensi semata-mata.
Piaget tidak melihat intelegensi sebagai suatu yang dapat didefenisikan secara kuantitatif, akan tetapi ia menyimpulkan dalam prinsip teorinya bahwa daya fikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif.
            Periode Perkembangan Biologis :
-         Intelegensi Praktis
Nama lain intelegensi motor-indra yang tumbuh dan berkembang seiring dengan perkembangan motor-indra (usia 0-2 tahun).
-         Intelegensi Praoperasional
Setelah anak memasuki periode perkembangan praoperasi (usia 2-7 tahun) berkembanglah perkembangan kognitifnya.
-         Intelegensi Operasional
Disekitar (usia 5-7 tahun) anak memasuki perkembangan dasar intelegensi operasional dengan mulainya anak memahami apa yang disebut sebagai operasi nyata (concrete uperation).
-         Intelegensi Operasional Formal
Dalam tahap ini batasan intelegensi operasional telah teratasi.

·        Howard Gardner
Gardner merumuskan teori intelegensi ganda yang didorong pendapatnya bahwa pandangan dari sisi psikometri dan kognitif saja terlalu sempit untuk menggambarkan konsep intelegensi.
Dalam usahanya melakukan identifikasi Gardner menggunakan beberapa macam kriteria yaitu :
a.       Pengetahuan mengenai perkembangan individu yang normal dan yang superior
b.      Informasi mengenai kerusakan otak
c.       Studi mengenai orang-orang eksepsional seperti individu yang luar biasa pintar, juga individu idiot savant dan orang-orang autistik
d.      Data psikometrik
e.       Studi pelatihan psikologis

Tujuh macam intelegensi berhasil di identifikasi Gardner :
1.      Intelegensi Linguistik
Banyak terlibat dalam membaca, menulis, berbicara, mendengar.
2.      Intelegensi Matematik-logis
Digunakan untuk memecahkan problem berbentuk logika simbolis dan matematika abstrak.

3.      Intelegensi Spatial
Digunakan dalam mencari cara untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.
4.      Intelegensi Musik
Menyusun lagu, menyanyi, memainkan alat musik.
5.      Intelegensi Kelincahan
Diperlukan dalam aktifitas atletik, menari, berjalan dan lainnya.
6.      Intelegensi Interpersonal
Digunakan dalam berkomunikasi, saling memahami dan berinteraksi dengan orang lain.
7.      Intelegensi Intrapersonal
Dibutuhkan untuk memahami diri sendiri.


·        Robert J. Sternberg
Teori Stenberg berangkat dari ketidakpuasan terhadap pendekatan kognitif dan  psikometri semata, akan tetapi Sternberg lebih menekankan teorinya pada kesatuan dari berbagai aspek intelegensi sehingga teorinya lebih berorientasikan pada proses (Sternberg dan Frensch, 1990). Teorinya berisikan tiga sub teori, yaitu  teori konteks (contextual), subteori pengalaman (experiential), sub komponen (componential).
Subteori konteks berusaha menunjukkan dan menjelaskan perilaku yang dianggap perilaku intelegen pada lingkungan budaya tertentu yaitu intelegensi konstektual.
Subteori pengalaman mengatakan bahwa perilaku intelegen menurut konteksnya tidak selalu berarti intelegen pula menurut pengalamannya.
Subteori komponen menunjukkan dan menjelaskan struktur proses kognitif yang mendasari semua perilaku intelegen, yaitu yaitu intelegensi komponensial.

Komponen-komponen intelegensi menurut teori Sternberg
-         Metakomponen
Merupakan proses kendali tingkat tinggi yang digunakan dalam perencanaan pelaksanaan (bersifat eksekutif), pemantauan dan evaluasi performasi seseorang dalam mengerjakan suatu tugas.
-         Komponen Performasi
Merupakan proses-proses tingkat rendah yang digunakan dalam melaksanakan berbagai strategi untuk melakukan performasi.
-         Komponen Penerimaan Pengetahuan
Adalah proses yang terlibat untuk mempelajari informasi-informasi yang baru dan penyimpanannya dalam memori.
           
            Sternberg mengemukakan empat cara yang digunakan berbagai komponen berinteraksi :
1.      Aktifitas satu jenis komponen oleh komponen jenis lain secara langsung.
2.      Aktifitas satu jenis komponen oleh komponen lainnya melalui perantara komponen jenis ke tiga.
3.      Umpan balik langsung dari satu jenis komponen ke komponen jenis lain.
4.      Umpan balik tidak langsung dari satu jenis komponen-komponen lainnya melalui perantaraan komponen jenis ketiga.

No comments:

Post a Comment