Sunday, April 15, 2012

TUGAS PERKEMBANGAN DAN PERKEMBANGAN KARIR

TUGAS PERKEMBANGAN DAN PERKEMBANGAN KARIR

Dalam kebudayaan Barat, tugas – tugas itu lebih nyata, dan untuk suatu bangsa misalnya Amerika, untuk kelas sosial tertentu. R. J. Havighurst mengembangkan konsep tentang tugas – tugas perkembangan (developmental tasks), yang di artikan tugas – tugas orang anggota kelompok masyarakat yang harus sudah di tunaikannya, prestasi yang harus sudah di capainya, pada tahap – tahap tertentu perkembangan dalam hidupnya sejak lahir sampai usia tua sesuai dengan harapan kebudayan masyarakat di mana ia tinggal atau menjadi anggotanya. Jika seseorang gagal menunaikannya suatu tugas tertentu pada suatu tahap perkembangan tertentu, maka kemungkinannya ia akan menjumpai kesulitan, atau terhalang, dalam menunaikan tugas – tugas dalam tahap – tahap perkembangan berikutnya. Perkembangan itu bersifat berkelanjutan dan berangsur – angsur,  jadi tidak terpisah – pisah atau lepas – lepas, demikian pun tugas – tugasnya.  Beberapa dari tugas perkembangan untuk tahap – tahap tertentu hidup orang dalam budaya Amerika, kelas menengah, sebagai contoh, adalah sebagai berikut (Cronbach, 1954, h. 94-95) :

Dalam hal perkembangan jasmani :
       a. Merangkak (usia 1 tahun).
       b. Mampu berjalan denga berbicara (2 tahun).
       c. Mulai pertumbuhan cepat mendadak (masa praremaja / 10 – 12 tahun).
       d. Akil balik (anak perempuan 10 – 16 tahun, anak laki – laki 12 – 17 tahun).
       e. Ujung pertumbuhan badan dan kemampuan intelek (masa remaja akhir / 17 – 20 tahun).
      f. Puncak pertumbuhan jasmani, puncak kinerja mental (masa peralihan ke dewasa / 21 – 26 tahun).
      
Dalam hal perkembangan lingkungan sosial :
      a. Rumah (masa bayi / 0 – 1 ½ tahun).
v    b. Rumah, prasekolah (masa prasekolah 2 – 5 tahun).
v   c. Sekolah, lingkungan tetangga, masyarakat sekitar (sebagai pengamat), (masa, praremaja 10 – 12 tahun).
v     d. SMA, masyarakat sekitar (khususnya fasilitas rekreasi) (masa remaja awal 13 – 16 tahun).
v   e. Waktu di rumah kurang, tempat kerja atau pendidikan lanjut (masa remaja akhir 17 – 20 tahun).
v    f. Tempat kerja, rumah baru, masyarakat sekitar baru (21 – 26 tahun).

Dalam hal – hal yang berkaitan dengan kerja dan hidup berkeluarga :
v  a. Anak – anak masa remaja awal (13 – 16 tahun) memasuki akil balik, berpacaran dan merasa dirinya di terima oleh teman lawan jenis dan menyadari peranannya sesuai jenis kelaminnya, menemukan vokasional yang hendak di tempuh.
v  b. Dalam masa remaja akhir (17 – 20 tahun) anak di harapkan mampu membuat keputusan serius tanpa mengandalkan diri pada orang dewasa, membina hubungan rapat dengan teman lawan jenis, membuat persiapan untuk kehidupan orang dewasa, sudah bisa memilih tujuan vokasional tertentu dan mengembangkan ketrampilan vokasional yang di perlukan, bekerja sambilan, tamat SMA lalu bekerja atau melanjutkan pendidikan
v  c. Dalam masa peralihan ke usia dewasa (21 – 26 tahun) orang di harapkan sudah menikah dan mencapai menyesuaian dalam kehidupan perkawinan, membuat keputusan meski mendapat tentangan dari orang tua, bekerja tetapi masih mendapat bimbingan, menerima tujuan – tujuan yang di tetapkan oleh atasan (pihak yang berwenang) menyusun rencana bersama teman hidupnya, memantapkan diri pribadinya (self) dalam pekerjaan yang “terhormat”.


Di dalam suatu masyarakat pun, seperti di Amerika, terdapat perbedaan di antara kelompok – kelompok dari berbagai kelas sosial. Anak kelas sosial bawah, umpamanya, belajar untuk pengendalian kandung kemihnya (toilet training, untuk mengatur buang air seni) lebih lambat, tetapi mereka mndpat penghasilan (uang) lebih cepat dari pada anak kelas sosial menengah. Kelakuan agresif di antara anak – anak kelas sosial bawah bisa di maklumi dan di terima, sementara untuk anak kelas sosial menengah kelakuan demikian itu, di tentang dan harus di cegah (Cronbach, 1954). Di dalam kebudayaan kita di sini nyata sekali pengaruh orang tua itu, bahkan sanak keluarga lain dalam sistem keluarga besar (extended family) yang mencakup paman atau kakek, umpamanya, pun terkadang ikut menentukan, setidak – tidaknya di minta pendapatnya dalam soal – soal penting seperti memilihan pekerjaan atau penentuan pasangan hidup bagi anak.
Di dalam masyarakat suku tertentu campur tangan orang tua dan keluarga lain bahkan bersifat menentukan. Dalam soal pilihan kerja hidup berkeluarga, seperti halnya di masyarakat barat, terdapat perbedaan antara “kelas sosial” dan kota – desa (daerah pedalaman).

No comments:

Post a Comment

Post a Comment